Prosesi kirab pengantin Gusti Kanjeng Ratu Hayu dan Kanjeng Pangeran Haryo Notonegoro
29 February 2016,
 0

Putri Bungsu Catering – Bukan hanya sekedar penyatuan dua orang insan atau sebuah kisah cinta belaka, pernikahan dalam masyarakat Indonesia tidak saja dianggap sebagai momen sakral membahagiakan, berkesan, bahkan jika mampu diusahakan, pernikahan hanya terjadi sekali dalam kehidupan manusia; sakralitas tidak bisa dilewatkan begitu saja, beberapa kebudayaan pada suku maupun agama yang ada di Indonesia mewajibkan anggotanya untuk tidak hanya melaksanakan, menjalani sebuah mahligai pernikahan bahkan menganggap pernikahan itu sendiri merupakan bentuk ibadah seorang hamba kepada Sang Pencipta.

Dapat mewujudkan rangakaian acara pernikahan sebagaiamana yang kita impikan tentu menjadi momen yang tak terlupakan, meski tidak secara keseluruhan resepsi pernikahan dimungkinkan untuk digelar dengan mewah atau prestis namun setiap pasangan berhak mendapatkan pengalaman tentang resepsi pernikahan yang indah, bahagia serta berkesan.

Jika kamu sudah memiliki rencana pernikahan, berikut penulis akan mereview hal-hal yang berkaitan yang bisa menjadi inspirasi buat kamu dalam melaksanakan pernikahan agar sesuai dengan gaya, kepribadian maupun dana. berikut ulasannya.

1. Konsep Pernikahan

Bagi kamu yang sedang menimbang dan akan memilih konsep dan tema pernikahan yang akan digunakan untuk acara pesta pernikahan yang bisa penulis tawarkan ialah tema pernikahan tradisional dan ruistic, meski kedua tren tersebut muncul pada pertengahan tahun 2015 namun kedua tren ini masih digunakan dan masih sangat dimungkinkan menjadi tren tema pernikahan 2016.

Tren pernikahan tradisional, entah itu kedua mempelai memiliki persamaan maupun perbedaan budaya, namun tema pernikahan tradisional masih lebih familiar digunakan masyarakat Indonesia. Tema pernikahan tradisional ini bagi mempelai yang memiliki budaya berbeda akan, budaya mereka akan ditampilkan dalam rangkaian yang terpisah meski ada juga yang mencoba melakukan penggabungan untuk mendapatkan unsur unik dan estetika yang lebih sempurna dari mulai pre-wedding hingga pada tahapan resepsi pernikahan.

Tema Pernikahan Tradisional via: azkaanggunart.com/pilihan-dekorasi-etnik-dan-tradisional-sebagai-tema-pernikahan/

Tema rustic ataupun rustic industrial juga turut meramaikan tema pernikahan tahun 2016, tema pernikahan rustic menonjolkan elemen dekorasi baik indoor maupun outdoor yang simple namun tetapa elegan yang banyak menggunakan kain dan lampu-lampu bohlam. Tema ini menjadi tren juga disebabkan mudah untuk diaplikasikan pada tema pernikahan lain seperti tradisional atau etnikuntuk mendapatkan tema dekorasi unik, meanrik namun tidak menghilangkan unsur sakral pernikahan.

Tema Pernikahan Rustic via: http://www.suherlin.com/7-tema-dekorasi-pernikahan-ini-menjadi-favorit-pengantin/dekorasi-pernikahan-rustic-arjunaciptawordpresscom/

Selain itu tema pernikahan yang dihadiri oleh ribuan tamu undangan namun suasana private lebih terjaga juga tetap menjadi favorit pada tahun 2016, pada tema pernikahan yang lebih private ini, tamu undangan yang hadir tidak lebih dari benar-benar orang dekat, tamu yang datang dari kedua keluarga, sahabat, dan beberapa teman saja.

2.Menolak Hadiah

Pada era 1990-an penulis yang memang sempat bertempat tinggal di Bandung, meski sekarang lebih menetap di Sidoarjo sempat mendapati budaya menolak hadiah pernikahan yang di daerah Sunda maupun Jawa, penolakan hadiah oleh tuan rumah selaku pemilik hajat pernikahan disampaikan dalam undangan pernikahan yang disebar dengan melampirkan tulisan “Tamu undangan tidak diperkenankan membawa hadiah dalam bentuk apapun kecuali do’a untuk kebaikan dunia & akhirat kedua mempelai” dibawah, disamping atau tempat yang memungkinkan tulisan tersebut terbaca tanpa mengganggu layout maupun estetika undangan tersebut.

Kapolri Jendral Badrotin Haiti dan Keluarga via: http://www.rmol.co/read/2015/02/25/193136/Kenyang-Lapangan-Konflik-Badrodin-Akan-Dinginkan-KPK-Polri-

Tanpa mencoba menggunggulkan budaya tertentu, namun penulis sendiri ter-nostalgia dengan budaya yang pernah ada tersebut ketika Kapolri Jenderal Badrodin Haiti menyelenggarakan pesta pernikahan anaknya Ipda Farouk Ashadi Haiti SIK yang mempersunting putri Kombes Pol Drs. Priyo Widyanto yang bernama Alicia Amanda Chikita, di Sasono Utomo TMII Jakarta pada tanggal 30 Mei 2015 yang lalu, ribuan tamu menghadiri acara pesta pernikahan yang diadakan di Sasono Utomo Taman Mini Indonesia Indah, namun beberapa orang menganggap unik yang terjadi pada undangan pesta pernikahan tersebut, pada undangan tersebut dilampiri selembar kertas yang bertuliskan “Terima Kasih Untuk Tidak Membawa Hadiah Dalam Bentuk Apapun”.

Kapolri yang memang mengepalai Kepolisian di seluruh Indonesia serta merupakan salah satu pejabat publik ini mematuhi aturan undang-undang mengenai gratifikasi pejabat publik, jika Kapolri sebagai pejabat publik melaksanakan sebuah aturan atau memang hal itu memang dilakukan sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas terselenggaranya pernikahan anaknya; sebagai warga biasa kita bisa meniru tindakan Kapolri tersebut selain memang pesta pernikahan sebagai bentuk rasa syukur kita kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, pemunculan kembali budaya yang pernah ada, juga lebih mempermudah urusan tamu undangan.

3.Kesederhanaan Suguhan Makanan

Jika dalam acara akad nikah Letnan Satu Infanteri Agus Harimurti Yudhoyono dan Annisa Larasati Pohan putra sulung Presiden keenam RI Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sejumlah petugas melakukan pengamanan jalannya acara cukup ketatdengan berjaga-jaga di tiap sudut lokasi berlangsungnya acara tersebut, penggunaan deteksi logam untuk memeriksa tiap tamu yang hadir hingga penutupan sejumlah ruas jalan, lain halnya dengan apa yang dilakukan oleh Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad tahun 2009 lalu.

Ahmadinejad kala itu menolak bantuan pihak kepolisian maupun tentara Iran untuk bersiaga selama acara pernikahan putranya berlangsung, selama cara tersebut tidak nampak adanya penutupan lalu lintas didepan lokasi tersebut; saat itu Ahmadinejad berpendapat bahwa polisi maupun tentara bertugas melayani seluruh masyarakat serta diperuntukkan bagi kepntingan lain yang lebih mendesak untuk diselesaikan.

Ahmadinejad yang saat itu mengaku tidak memiliki uang yang banyak untuk menggelar pesta pernikahan anaknya yang bernama Alireza tersebut menghabiskan uang sebesar 3,5 juta Toman atau saat itu bernilai sekitar 28 juta Rupiah dengan mengundang 180 orang tamu dan duduk secara lesehan yang menyajikan makanan sederhana seperti buah-buahan, roti dan sebuah air mineral.

Yah angka 28 juta Rupiah bagi masyarakat Indonesia bukan nominal yang sedikit, akan tetapi di Iran dengan nominal tersebut jumlah tamu maupun sajiannya termasuk minimalis, hal ini bisa disebabkan perbedaan laju pertumbuhan ekonomi maupun hal-hal lain yang menyebabkan perbedaan harga antara Indoensia dan Iran sendiri.

berbicara soal kesederhaan suguhan makanan di Indonesia, pejabat publik juga pernah melakukan hal serupa, meski tidak seminimalis apa yang dilakukan oleh Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad tapi tetap menunjukkan rasa syukur atas terselenggaranya sebuah pernikahan.

Menengok tahun 2013 ada pesta pernikahan yang digelar oleh Sultan Hamengku Buwono X untuk pernikahan sang putri Gusti Kanjeng Ratu Hayu dengan Kanjeng Pangeran Haryo Notonegoro; selain memang Sultan Hamengku Buwono X hampir mnembeli semua apa yang diujal oleh pedagang di sekitar keraton saat pernikahan putrinya agar bisa dinikmati secara gratis oleh siapapun yang menyaksikan acara pernikahan tersebut.

Ketika itu masyarakat juga turut andil menyumbangkan bermacam makanan khas untuk tamu, seperti Paguyuban Pedagang Mie Rebus asal Kuningan, Jawa Barat yang turut memeriahkan Pesta Rakyat Dhaup Ageng yang digelar pada 22 Oktober di selasar Monumen Serangan Oemoem 1 Maret, titik nol kilometer, Malioboro, Yogyakarta dengan menyuguhkan kepada masyarakat umum 1.000 mangkuk mie rebus dan 1.000 gelas es teh dalam pesta rakyat tersebut, hal tersebut tidak berhenti sampai disitu pedagang kaki lima (PKL) di Malioboro menyiapkan 5.000 nasi bungkus, 5.000 porsi jajan pasar, 500 bungkus bakpia, makanan ringan khas Yogyakarta, dan setengah kuintal buah, 75 gerobak angkringan juga menyiapkan jajanan gratis bagi warga Yogya dan pengunjung yang menyaksikan kirab.

Prosesi kirab pengantin Gusti Kanjeng Ratu Hayu dan Kanjeng Pangeran Haryo Notonegoro via: http://sp.beritasatu.com/home/pernikahan-putri-sultan-hb-x-warga-yogya-berpesta/43837

Ada beberapa pendapat yang mengatakan bahwa pilihan makanan maupun cara penyajiannya akan mencerminkan kepribadian pasangan amupun si pemilik hajatan, hal ini bisa dilihat dari suguhan yang disediakan Sultan Hamengku Buwono X khas Yogya sebab beliau ialah raja Jawa yang bertahta di Yogyakarta, meski begitu penulis juga tidak memungkiri adanya penggabungan hidangan antara makanan khas dengan populer ataui yang berasal dari luar negeri.

Selaras dengan varian suguhan makanan baik itu tradisional yang mencirikan kekhasan suatu daerah maupun yang tengah populer, cara penyajian makanan juga sangat bervariasi, dimulai dari jamuan makan meja yang menyajikan hidangan utama, kreasi stan prasmanan maupun aneka camilan.

 Pernikahan Anak Presiden Joko Widodo Via: http://www.jurnalasia.com/2015/06/12/resepsi-gibran-selvi-meriah-semoga-jokowi-cepat-jadi-kakek/

Hal itu pula yang terjadi saat resepsi pernikahan putra sulung Presiden Joko Widodo, Gibran Rakabuming Raka dengan Selvi Ananda, Presiden Joko Widodo yang selama ini dikenal merakyat juga menyuguhkan sajian yang tidak jauh berbeda, semua menu makanan yang sehari-hari dijual oleh warung-warung disekitar rumahnya dibeli untuk disuguhkan kepada tamu yang hadir.

Selain “melibatkan” warung makan, pada acara tersebut Presiden Joko Widodo menyewa jasa 200 penarik becak yang telah diberikan baju lurik lengkap dengan blangkon untuk mengantarkan para tamu ke lokasi pelaminan, hal ini juga masih ditambahi dengan pemberian batik secara cuma-cuma kepada setiap awak media yang meliput prosesi pernikahan tersebut.

Dalam mewujudkan sebuah resepsi pernikahan penulis tidak menyangkal ada beberapa dari kita yang merayakan pernikahannya pada resepsi pernikahan dengan mewah, berkelas dengan dihadiri tamu undangan yang bisa dibilang tidak sedikit pula; meski penulis juga menjumpai beberapa resepsi pernikahan digelar dengan sederhana selain memang ingin mempercepat pernikahan, beberapa pasangan yang melaksanakan pernikahan sengaja melakuakan penghematan atau menyimpan anggaran pernikahan untuk kelanjutan kehidupan mereka setelah pesta pernikahan diadakan, meski pada beberapa sisi dalam pembatasan anggaran pernikahan, pasangan-pasangan tersebut tidak menyelenggarakan pernikahan yang bisa dibilang murahan.

Penghematan anggaran pernikahan yakni dengan menghilangkan beberapa aspek laiknya dalam hal pemilihan souvenir, pemilihan lokasi resepsi, atau foto pre-wedding yang dilakukan tetap memperhatikan aspek penting tanpa mengorbankan sebuah kualitas.

Pesta pernikahan sendiri di Indonesia umumnya atau jika lebih penulis khususkan yang ada di Pulau Jawa dihadiri undangan dengan jumlah besar, daftar tamu dapat dengan mudah mencapai 500 hingga 1.000 orang dengan rasionalisasi tiap mempelai ‘membawa’ tamu dan keluarga dari kedua mempelai juga kedatangan tamu pula yang berasal dari keluarga amupun teman dekat, angka 500-1000an orang tersebut bisa melonjak lebih jika kedua mempelai atau orang tua mempelai memiliki rekan bisnis. di mana masing-masing undangan membawa serta teman dan keluarga mereka. Kesederhanaan malah bisa dipertanyakan jika jumlah tamu yang hadir tidak bisa dibilang sedikit tersebut, pemilihan lokasi yang besar agar bisa menampung tamu yang hadir menjadi pertimbangan yang paling utama karena sebagai pihak tuan rumah penyelenggara pernikahan tentu saja kenyamanan tamu yang hadir menjadi perhatian kita.

Leave a Reply